KONSULTASI
Logo

Harga TBS Sawit Nasional Diproyeksi Naik dalam Empat Pekan, Plasma Berpotensi Tembus Rp 3.577 per Kg

13 Oktober 2026
AuthorTim Redaksi
EditorHendrik Khoirul
Harga TBS Sawit Nasional Diproyeksi Naik dalam Empat Pekan, Plasma Berpotensi Tembus Rp 3.577 per Kg

sawitsetara.co - JAKARTA – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit plasma nasional diproyeksikan meningkat secara bertahap dalam empat pekan mendatang, meski mengalami penurunan pada periode 5–11 Oktober 2026. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) memperkirakan harga rata-rata TBS plasma berpotensi mencapai Rp 3.577 per kilogram pada akhir periode proyeksi.

Berdasarkan laporan APKASINDO dalam laman hargasawitindonesia.id, rata-rata harga TBS plasma di 22 provinsi turun Rp 41 per kilogram atau 1,1 persen menjadi Rp 3.527 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya.

Sementara itu, rata-rata harga TBS petani swadaya turun Rp 30 menjadi Rp 2.899 per kilogram atau melemah sekitar 1 persen.

APKASINDO memperkirakan kedua skema tersebut bergerak dengan kecenderungan berbeda selama empat pekan ke depan. Harga plasma diproyeksikan naik secara bertahap, sedangkan harga swadaya diperkirakan mengalami penurunan tipis.

Dalam proyeksi tersebut, rata-rata harga TBS plasma diperkirakan mencapai Rp 3.574 per kilogram pada pekan pertama, kemudian naik menjadi Rp 3.575 pada pekan kedua, Rp 3.576 pada pekan ketiga, dan Rp 3.577 per kilogram pada pekan keempat.

Dengan demikian, harga TBS plasma berpotensi meningkat Rp 50 per kilogram dibandingkan posisi rata-rata pada periode 5–11 Oktober 2026.

Sebaliknya, harga TBS swadaya diperkirakan berada di level Rp 2.970 per kilogram pada pekan pertama proyeksi. Harga kemudian diproyeksikan turun menjadi Rp 2.965 pada pekan kedua, Rp 2.962 pada pekan ketiga, dan Rp 2.958 per kilogram pada pekan keempat.

Jika proyeksi tersebut terealisasi, harga TBS swadaya akan turun Rp 19 per kilogram dibandingkan rata-rata pada periode 5–11 Oktober 2026.

apkasindo

Berbasis Perhitungan Statistik

APKASINDO menyusun proyeksi menggunakan metode statistik dengan tren teredam. Model tersebut digunakan untuk memperkirakan kecenderungan pergerakan harga berdasarkan pola data sebelumnya.

Untuk mengukur keandalan model, APKASINDO juga melakukan pengujian terhadap data delapan pekan terakhir. Hasilnya menunjukkan rata-rata selisih prediksi harga satu pekan dengan harga aktual sekitar Rp 25 per kilogram.

Meski demikian, APKASINDO menegaskan bahwa hasil proyeksi tersebut bukan jaminan harga aktual akan bergerak sesuai perkiraan. Pergerakan harga tetap dipengaruhi kondisi pasar dan faktor lain yang dapat berubah selama periode tersebut.

Laporan itu juga mencantumkan estimasi paritas harga TBS sebesar Rp 2.651 per kilogram. Perhitungan menggunakan harga tender CPO domestik dari KPBN, rendemen 21 persen, dan indeks K sebesar 85 persen.

Dibandingkan dengan estimasi paritas tersebut, rata-rata harga TBS plasma nasional berada sekitar 33 persen lebih tinggi. Sementara itu, harga TBS swadaya tercatat sekitar 9,4 persen di atas estimasi paritas.

APKASINDO menyebut angka paritas tersebut bersifat indikatif dan digunakan sebagai bahan telaah, bukan penetapan harga resmi.

Harga TBS plasma mengacu pada pola formula dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor 13 Tahun 2024 tentang Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Pekebun Mitra. Sementara itu, harga TBS petani swadaya tidak diatur melalui mekanisme yang sama.

Adapun harga resmi TBS ditetapkan setiap pekan oleh Tim Penetapan Harga Dinas Perkebunan provinsi. Penetapannya mempertimbangkan sejumlah faktor, termasuk harga CPO, nilai tukar, rendemen, dan kebijakan pemerintah.

Perbedaan harga di tingkat pabrik juga dapat dipengaruhi jarak angkut, mutu buah, serta umur tanaman. Karena itu, proyeksi kenaikan harga plasma hingga Rp 3.577 per kilogram perlu dipahami sebagai gambaran statistik mengenai arah pergerakan harga, bukan kepastian nilai yang akan diterima petani.

Tags:

harga TBS

Berita Sebelumnya
APKASINDO Dorong Koperasi Bangun Pabrik Pupuk Organik, Biomassa Sawit Jadi Peluang Usaha

APKASINDO Dorong Koperasi Bangun Pabrik Pupuk Organik, Biomassa Sawit Jadi Peluang Usaha

APKASINDO mendorong koperasi petani sawit mengembangkan usaha hilir melalui pembangunan pabrik pupuk organik dan pengolahan biomassa. Langkah ini dibahas bersama perwakilan koperasi dari tujuh provinsi dalam pertemuan di Kantor Perwakilan DPP APKASINDO di Pekanbaru, Sabtu (10/10/2026).

12 Oktober 2026Berita

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *